Monday, September 15, 2014

BABY DAYS OUT – TOUR ISTANA PRESIDEN

#BSMWritersClub #BSMkompetisimenulis

Hari minggu tanggal 14 September 2014, aku ikut abiku jalan-jalan ke Istana Presiden Republik Indonesia. Hatiku senang sekali, karena ini pertama kali aku mengunjungi Istana Presiden. Oh iya, namaku M. Fatih Ashidqie, tapi biasa dipanggil Fatih saja. Dan ternyata aku adalah peserta paling muda di rombongan tour ini. Usiaku baru 9 bulan loh…
Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Ummi langsung memandikan dan tidak lupa mengganti pampersku. Maklum, aku lagi sering pipis, xixixi…

Sekitar jam 7 pagi, mobil parkir di sebuah gedung dipojokan jalan Thamrin. Aku pikir ini adalah istana Presiden. Eh ternyata, ini adalah kantor abiku, Bank Syariah Mandiri. Habis, gedungnya tinggi banget dan besar sekaleee…

Jam 9 pagi kami tiba di Istana Presiden. Pertama kali disuguhi pemutaran video tentang istana presiden. Suasananya terlalu protokoler dan tidak nyaman untuk anak-anak seperti aku. Cara presentasinya pun gak menarik, monoton banget. Aku intip beberapa pengunjung ada yang ngobrol, main gadget dan mengantuk. Aku sendiri mending mimik cucu ajaah, xixixi…

Setelah itu, kami menuju istana. Isinya bagus sekali, megah persis istana princess ana di film Frozen. Aku baru tau kalo ibu Negara suka foto-foto ya. Banyak sekali hasil karya beliau didalam istana. Persis banget sama ummi. Ummi aku paling narsis sedunia. Semua pose ada di ponselnya. Foto saat kasih makan aku ada, saat mandiin aku ada, saat ajak main ke lapangan dekat rumah ada, saat arisan ada, saat ganti pampers pun ada. Ckckck…

 Didalam istana terdapat beberapa patung dan foto para pendiri negeri ini pun terpampang di sana. Ada Gajahmada, pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, dan Jendral Sudirman. Aku makin bangga dengan sejarah Indonesia yang begitu kental dengan perjuangan. Aku jadi ingat bagaimana perjuangan abiku di Bank Syariah Mandiri. Bukan lagi pergi pagi pulang petang, tapi kadang juga tidak pulang. Aku sendiri jarang ketemu abi kecuali hari sabtu atau minggu. Selebihnya, gak pernah ketemu. Abi pergi saat aku masih tidur, abi pulang saat aku sudah tidur. Malahan pernah tidak pulang satu minggu karena harus menagih hutang di luar kota. Paling-paling aku bisa lihat abi lewat ponsel ummi. Awalnya aku merasa kecewa sekali, tapi setelah berkunjung ke istana aku jadi semakin mengerti, bahwa perjuangan butuh pengorbanan. Biarlah aku berkorban tidak ketemu abi, asalkan ekonomi syariah berdiri tegak di Negara Indonesia. Aku berdoa semoga BSM bisa menjadi gerbong ekonomi syariah di dunia. Cie..cie..

Kalau boleh saran, sesuai komitmen presiden yang menjadikan istana sebagai rumah rakyat, seharusnya istana menyediakan fasilitas tour untuk kepentingan anak-anak seperti: pembawa acara yang fun gak monoton, area bermain anak, badut, video presentasi yang lebih fun dan lain-lain. Apalagi pengunjung istana justru lebih banyak anak-anak pelajar. Dan satu lagi, ruang menyusui buat balita kayak aku, xixixi…

Selain itu, aku mau mengucapkan terima kasih buat kakak2 panitia dari BSM Writters. Aku bertekad akan menjadi penulis seperti kakak2 panitia. Makasih juga buat Kakak yang baik2 dan cantik2 yang udah mau gendong2 aku. Aku serasa jadi artis banget. Cihuuuyyy…

Pesan abiku:
#kunjungi BSM di www.syariahmandiri.co.id
#kalau berhutang harus mau bayar. Kalau tidak bayar, tidak diterima Allah kalau wafat

Thursday, September 4, 2014

Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah

Pembiayaan/kredit bermasalah tidak hanya menjadi virus di bank konvensional, tapi juga mulai menjalar ke bank syariah. Pembiayaan bermasalah dapat mempengaruhi tingkat kesehatan bank. Pembiayaan bermasalah berdampak langsung kepada laba dan tingkat kesehatan bank. Laba berkurang karena debitur tidak menyetorkan margin/bagi hasil kepada bank.

Selain itu, tunggakan angsuran akan mempengaruhi kolektibilitas nasabah dari “Lancar” menjadi “Kurang Lancar” atau bahkan “Macet” atau lebih dikenal dengan istilah NPF (Non Performing Financing). Semakin tinggi NPF, semakin bank dianggap tidak “SEHAT”. Pada taraf NPF tertentu bank akan dianggap gagal mengelola bisnisnya dan akan mendapatkan pengawasan khusus dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Jika sudah demikian, maka bank akan makin kesulitan mengelola bisnisnya.

Penyebab pembiayaan bermasalah di bank syariah dan bank konvensional pun kurang lebih sama, antara lain:
1.      Faktor bisnis, misal: ditipu rekan bisnis, izin usaha dibekukan, bangkrut, pekerjaan tidak dibayar oleh bowheer, dan lain-lain
2.      Faktor karakter, misal: penyimpangan tujuan penggunaan dana, memang berniat "ngemplang", kabur/hilang/skip, dan lain-lain
3.      Faktor kejahatan bank, misal: kredit fiktif

Akar permasalahannya sama, kualitas Sumber Daya Manusia yang masih perlu ditingkatkan. SDM bank harus memiliki kemampuan yang luar biasa, antara lain:
1.      memiliki pengetahuan/wawasan tentang bisnis, antara lain: memiliki jaringan bisnis, mampu melihat peluang bisnis, mampu menganalisa bisnis, mampu mengidentifikasi risiko dan mampu melakukan mitigasi risiko
2.      memiliki pengetahuan hukum
3.      memiliki hati yang bersih dari keinginan berbuat "jahat"

Sayangnya tidak mudah merekrut Sumber Daya Manusia seperti itu, pasti ada kelebihan dan kekurangan. Mendidik tenaga baru tidaklah mudah dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tapi mau tidak mau bank harus menginvestasikan pekerjanya agar bisa memberikan kontribusi terbaik di masa depan.

Maka dari itu bank harus memiliki sistem yang juga mampu menyesuaikan diri dengan berbagai risiko. Bank harus memiliki:
1.      sistem rekrutmen yang dinamis
2.      sistem benefit yang memadai
3.      manajemen risiko yang kuat
4.      infrastruktur teknologi yang sesuai
5.      produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah (product centric)
6.      sistem penagihan yang kuat

Sunday, June 23, 2013

PRODUK TABUNGAN Tabunganku akan dikonsep untuk bank Syariah

JAKARTA. Suksesnya produk tabungan untuk skala mikro, yakni Tabunganku di perbankan konvensional, membuat Bank Indonesia (BI) berencana memperluas produk itu untuk diterapkan di perbankan syariah.

"Masih kami godok. Ini harus bersama dengan bank syariah juga," ucap Direktur Eksekutif Departemen Perbankan Syariah BI, Edy Setiadi, Jumat, (21/6).

Ia menyebutkan, saat ini pembahasan soal produk Tabunganku masih dipelajari, terutama soal fitur dalam produk Tabunganku Syariah.

Yang jelas kata Edy, perihal akad, bentuk kontrak tabungan ini sudah pasti akan menggunakan prinsip syariah. Namun, Edy belum tahu apakah itu titipan wadiah atau bagi hasil seperti mudarabah.

BI juga belum menentukan saldo minimum untuk tabunganku syariah itu. Edy hanya bilang, bisa saja saldo minimumnya adalah Rp 20.000 atau Rp 50.000. Ia yakin bahwa ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menabung di bank syariah.

Jika bisa dijalankan, maka bank sentral akan mengajak semua bank mendistribusikan produk Tabunganku Syariah. Namun BI tidak mengharuskan bank-bank itu untuk menjalankan produk ini.

Nantinya, BI juga akan melakukan sosialisasi produk Tabunganku Syariah ini. Dalam waktu dekat, BI akan melaksanakan acara Gerakan Ekonomi Syariah (Gres). Hal ini terkait dengan rencana beroperasinya kantor pusat dari komunikasi ekonomi syariah.

Perlui diketahui, produk Tabunganku merupakan tabungan yang di konsep tanpa biaya yang diluncurkan BI tahun 2010. Selama dua tahun beroperasi, jumlah rekening TabunganKu telah mencapai 2.554.600 juta rekening dengan nilai Rp 2,7 triliun.

Karena produktif diterapkan di bank konvensional, BI berencana, produk tabungan ini bisa diterapkan di bank syariah.


Oleh Annisa Aninditya Wibawa - Jumat, 21 Juni 2013

BI Dorong Kerja Sama Bank Syariah dan Lembaga Keuangan Mikro

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) mendorong bank-bank syariah melakukan kerja sama atau program linkage dengan lembaga keuangan mikro syariah seperti Baitul Maal wa Tamwiil (BMT) dan koperasi jasa keuangan syariah.

Kepentingan membangun kerja sama antara bank syariah dengan lembaga keuangan mikro syariah bersifat mutual benefit atau timbal balik dan bertujuan mengembangkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Untuk mendukung kemitraan ini, BI sejak 2011 melakukan pemetaan BMT dan koperasi syariah, mengidentifikasi kunci sukses dan bentuk pola kemitraan terbaik antara bank syariah dengan lembaga keuangan mikro syariah.

Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah mengatakan masih banyak masyarakat yang belum terlayani jasa keuangan, padahal potensi UMKM sangat besar.

"Berbagai kebijakan dan inistiatif pengembangan koperasi dan lembaga keuangan mikro termasuk yang berpola syariah penting menjadi prioritas pembangunan ke depan," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Republika, Senin (17/6).

Menurut dia, urgensi keberadaan industri keuangan mikro bagi sektor usaha mikro-kecil nasional disadari betul pemerintah. Banyak upaya penguatan industri keuangan mikro yang telah dan terus dilakukan.

Antara lain adalah penguatan landasan hukum keuangan mikro dengan penerbitan UU No 17 tahun 2012 tentang Perkoperasian dan UU No 1 tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro.

"Dua UU ini diharapkan dapat mendorong industri keuangan mikro yang di dalamnya terdapat berbagai bentuk lembaga keuangan dalam memberikan pelayanan bagi usaha mikro-kecil," katanya.

Pada sisi lain, kepastian hukum bagi lembaga keuangan sektor mikro-kecil akan memudahkan lembaga dalam melakukan kerja sama dengan institusi lain seperti melakukan kemitraan dengan bank syariah.

Halim mengatakan kedua UU tersebut memberikan banyak tugas bagi otoritas dan stakeholders perkoperasian dan keuangan mikro untuk dilaksanakan.

Selain itu, terdapat sejumlah isu seperti pemilahan kewenangan dan tanggung jawab lembaga-lembaga pemerintah dalam pembinaan, pengaturan dan pengawasan lembaga keuangan mikro.

Khusus bagi lembaga keuangan mikro syariah dengan format BMT, terdapat isu penting mengenai kejelasan posisi BMT dalam kedua UU tersebut. BMT secara eksplisit tertulis sebagai lembaga keuangan mikro yang akan diawasi OJK dalam UU LKM.

Namun pada realitasnya banyak BMT beroperasi dengan badan hukum koperasi juga menjadi objek yang diatur UU Perkoperasian dengan mengelompokan lembaga tersebut sebagai Koperasi Simpan Pinjam (KSP) berdasarkan prinsip ekonomi syariah.

BI berharap ke depannya lembaga keuangan mikro syariah dapat meningkatkan kemitraan dan aliansi strategis dengan lembaga keuangan syariah lainnya, termasuk bank syariah sehingga mampu melayani sektor usaha mikro-kecil secara maksimal.
Reporter : Qommarria Rostanti
Redaktur : Djibril Muhammad

Konversi Bisa Tingkatkan Pasar Perbankan Syariah

KOMPAS.com - Konversi satu dari bank pemerintah menjadi bank syariah bisa meningkatkan pasar perbankan syariah di Tanah Air. Direktur Utama Bank Syariah Bukopin (BSB) Riyanto mengemukakan pandangannya saat pembukaan Kantor Cabang Pembantu Bisnis Area V BSB di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan pada Rabu (22/5/2013). "Penguasaan perbankan syariah bisa mencapai tujuh persen kalau ada konversi,"katanya.

Menurut catatan Riyanto, sampai kini, total penguasaan pasar perbankan syariah dari total pasar perbankan nasional berada di posisi 4,7 persen. Lalu, total aset perbankan syariah sekarang mencapai Rp 200 triliun. "Jadi sebetulnya, pasar perbankan syariah masih sangat besar di Indonesia," imbuhnya.

Riyanto menerangkan tantangan terbesar bagi perbankan syariah di Indonesia adalah soal edukasi. Pada bagian ini, perbankan syariah masih memerlukan begitu banyak penetrasi dari pelaku pasar. "Kalau makin banyak yang masuk di bisnis perbankan syariah, posisi perbankan syariah pun makin kuat,"tuturnya.

Berbicara soal penetrasi perbankan syariah, Riyanto mengatakan kalau pihaknya juga terus berupaya untuk memperluas pelayanan. Dalam kesempatan itu, BSB meneken perjanjian kerja sama pembayaran tagihan air bersih dengan PT Aetra Air Tangerang. "Di kawasan ini, kami mematok target titik impas investasi kantor cabang di bawah tujuh bulan,"katanya.

Dalam catatan Riyanto kemudian sejak berdiri pada 2007, aset BSB berkembang dari Rp 460 miliar menjadi Rp 3,8 triliun sampai dengan pertengahan 2013. Lalu, pembiayaan pun menanjak dari Rp 300 miliar mencapai Rp 2,7 triliun selama kurun waktu 2007-2013. "Kebanyakan pembiayaan kami untuk pembelian kendaraan bermotor,"terangnya.

Data yang disampaikan Riyanto juga menunjukkan kalau BSB sudah memunyai 95 gerai. Dari jumlah itu, 73 di antaranya dilayani oleh Bank Bukopin. Sampai dengan akhir 2013, BSB akan membuka cabang baru di Yogyakarta, Semarang, Malang, dan Pekanbaru.

Opsi

Sementara itu, terkait konversi tadi, sejatinya, menurut data-data terkumpul ada dua opsi yang sempat mengemuka terkait eksistensi bank pemerintah berbasis syariah. Opsi pertama adalah menggabungkan seluruh bank pemerintah tersebut yakni Bank Syariah Mandiri, Bank BRI Syariah, BNI Syariah, dan Unit Usaha Syariah BTN. Andai opsi itu terwujud, total pangsa pasar bank baru itu mencapai 44,5 persen dari seluruh pasar perbankan syariah di Indonesia.

Sampai dengan akhir 2012, aset keempat bank itu besarnya Rp 86,78 triliun. Lalu, penggabungan keempatnya membuat modal inti mencapai angka Rp 7,1 triliun. Merger itu membuat bank syariah baru milik pemerintah berada dalam klasifikasi Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) kategori III.

Selanjutnya, opsi berikutnya adalah konversi salah satu bank milik pemerintah menjadi bank syariah. Pilihan ini dianggap lebih mampu memperbesar pasar perbankan syariah di Nusantara. Soalnya, masih begitu banyak potensi pembiayaan di bisnis perbankan syariah mulai dari properti hingga konsumer dan sebagainya. "Jadi, saya tekankan lagi, apa pun inti bisnisnya, potensi pasar perbankan syariah tetap masih besar dan hal itu menjadi tantangan bagi perbankan syariah milik pemerintah maupun swasta,"demikian Direktur Utama Bank Syariah Bukopin Riyanto.

Tantangan terbesar bagi perbankan syariah di Indonesia adalah soal edukasi.

Editor : Josephus Primus

Bank Syariah Mandiri Membuka Jasa Rekening Dana Saham Syariah

TRIBUNNEWS.COM JAKARTA. Bank Syariah Mandiri berpotensi mendapat limpahan likuiditas. Kemarin (18/6/2013), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjuk anak usaha PT Bank Mandiri Tbk ini sebagai salah satu bank administasi rekening dana nasabah syariah.

Direktur Utama Bank Syariah Mandiri, Yuslam Fauzi, mengemukakan kerjasama ini untuk memfasilitasi nasabah yang bertransaksi saham syariah di pasar modal. Selama ini, pelayanan administrasi nasabah yang bertransaksi saham syariah masih melalui bank konvensional. Melalui kerjasama ini, BSM merupakan satu-satunya bank syariah yang menjadi bank administrator rekening dana nasabah (RDN) syariah. Manajemen BSM juga ingin berandil dalam meningkatkan transaksi ekonomi syariah, khususnya di pasar modal Indonesia.

Dengan menjadi bank administrator RDN syariah, Bank Syariah Mandiri akan mengelola dan mengadministrasikan RDN investor pasar modal yang dibuka di sana. Hal itu meliputi pengiriman data ke KSEI pada setiap kegiatan pembukaan RDN, pemblokiran, pelepasan blokir dan penutupan serta informasi saldo kepemilikan dana nasabah.

Potensi pasar saham syariah di Bursa Efek Indonesia terus berkembang. Saat ini terdapat 286 saham yang masuk kategori efek syariah atau 56,52% dari total 506 saham yang tercatat di BEI. Berdasarkan data kepemilikan efek di sistem KSEI, nilai kapitalisasi saham syariah mencapai Rp 1.450 triliun atau sekitar 49,62% dari total kapitalisasi saham di BEI.

Melihat potensi tersebut, BSM ingin mengambil salah satu peran penting, yakni sebagai bank administrator rekening dana nasabah syariah.

Manajemen BSM menargetkan sudah bisa melayani investor saham syariah pada bulan Juli mendatang. Bank ini akan meluncurkan produk tabungan bernama Tabungan Saham Syariah yang tersedia di dua kantor cabang BSM, yakni di Gedung BEI dan Warung Buncit, Jakarta Selatan.

Yuslam ingin status BSM sebagai bank administrator rekening dana syariah dapat berkesinambungan. Peluncuran rekening dana syariah ini diharapkan mampu memacu transaksi efek syariah. Untuk meningkatkan pelayanan, BSM telah mengganti core banking system (CBS) dengan yang baru sehingga mampu melayani nasabah secara maksimal. "CBS yang baru memungkinkan nasabah atau investor bertransaksi 24 jam tanpa terganggu cut of business atau end of day," ucap Yuslam.

Sebelum kerjasama dengan BSM, KSEI sudah menggandeng lima bank konvensional untuk memfasilitasi RDN investor saham. Kelima bank itu adalah Bank BCA, CIMB Niaga, Bank Mandiri, Bank BNI, dan Bank Permata.(KONTAN/Emma Ratna Fury )

Tuesday, January 15, 2013

Laznas BSM Latih Pengurus Masjid

Jarkasih, pengurus Masjid Al Hidayah Rawamangun, Jaktim, sumringah. Bersama 19 pengurus masjid lainnya, Jarkasih yang sehari-hari bertugas sebagai guru di SMP Diponegoro Rawamangun, mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan Payment Point Online Bank (PPOB). Sunarto Zulkifli, kepala cabang BSM Cabang Roxi Jakbar menjelaskan Pelatihan Wirausaha PPOB baru kali pertama diadakan BSM bekerja sama dengan Laznas BSM. Menurut dia, Pelatihan Loket PPOB untuk masjid ditujukan agar terjadi proses pemberdayaan dan pengayaan fungsi masjid.

Lebih lanjut Sunarto menjelaskan secara detail apa yang dimaksud dengan Pelatihan Loket PPOB (Payment Point Online Bank), yaitu loket-loket yang bekerja sama dengan Bank Syariah Mandiri (BSM) dalam rangka menerima berbagai pembayaran dari masyarakat, seperti listrik, token, telepon, pulsa, dan lain-lain. “Tujuan BSM membentuk PPOB adalah untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses loket yang lebih dekat. Selain itu, BSM berharap dapat menghidupkan bisnis UKM, terutama yang berminat mendirikan loket PPOB,” kata Sunarto kepada Republika Kamis (27/12) di Jakarta.

Kegiatan kali pertama yang diprakarsai Laznas BSM ini diikuti 20 peserta dari 10 masjid di wilayah Jakarta dan Tangerang. Ia menjelaskan akan diikuti dengan gelombang berikutnya. Menurut dia, loket PPOB butuh kepercayaan dari masyarakat. “Nah, masjid kami pandang lebih kredibel dibandingkan loket perorangan. Selain kepercayaan, Loket PPOB ini juga memberikan keuntungan yang menjanjikan bagi masjid,” ujarnya menambahkan.

Direktur Laznas BSM, Muhammad Kiagus Tohir, mengungkapkan pelatihan bagi pengurus masjid ini bagian dari program Mitra Umat yang selama ini sudah dilaksanakan Laznas BSM, antara lain, bantuan permodalan bagi UKM dan Lembaga Keuangan Syariah (LKS), seperti BMT yang menjadi ujung tombak BSM di daerah-daerah. “Tujuan pelatihan ini, kita ingin menghidupkan UKM-UKM apalagi masjid merupakan tempat strategis sehingga memudahkan masyarakat mengakses loket pembayaran listrik, telepon, dan lainnya.” (damanhuri zuhri/Republika)